HMJ PAI IAIN PEKALONGAN

HMJ PAI IAIN PEKALONGAN
SELAMAT DATANG
TERIMAKASIH SUDAH BERKUNJUNG

Breaking News

Sunday, May 21, 2017

HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( HMJ PAI )


HIMPUNAN MAHASISWA JURUSAN
 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM ( HMJ PAI )
Pengetahuan yang tak di dasari dengan kecerdasan afektif dan psikomotorik adalah hal yang tabu. Mengapa bisa dikatakan tabu??? Untuk kalangan kita yang biasa di panggil sebagai status Mahasiswa, pengetahuan merupakan hal yang biasa di dapat di bangku perkuliahan. Tak lain misalnya dalam pembuatan makalah, presentasi serta tugas, itu semua hal yang biasa dilakukan sehari-harinya.
Namun, hakikat sebagai Mahasiswa bukan hanya soal itu saja yang katanya menjadi mahasiswa kuliah pulang kuliah, pulang kuliah perpustakaan.. yess. Itu sangat menentukan sekali akademis dengan IPK Cumlaude. Bagi mereka adalah hal yang mudah untuk meraih itu. Sayangnya, apa kita setelah lulus dan ipk cumlaude itu sudah pasti menentukan kita untuk diterima di dunia pekerjaan. Tentunya itu bukan hal yang sangat penting bagi di terima atau tidaknya di dunia kerja, meskipun sedikit banyak ada yang memprioritaskan.


Mahasiswa merupakan agen perubahan. Yess.. agent of changes bagi lingkungan kampus atau masyarakat. Mengapa seperti itu?? Ya,, karena kita adalah pembawa inspirasi bagi mereka yang pada dasarnya kurang mengetahui hal-hal yang seharusnya perlu di ubah, baik itu fikiran ataupun tindakan yang tentunya membawa arus yang lebih baik.
Sekilas  tentang HMJ PAI..........
HMJ PAI merupakan organisasi kemahasiswaan yang bertujuan sebagai wadah aspirasi mahasiswa PAI dalam membangun citra diri dari program studi PAI yang sesuai dengan tuntutan zaman. Organisasi ini berdiri pada tanggal 14 februari 2010. Sebelumnya juga sempat berdiri HMPS D2 PAI karena dahulu ada Program Studi Diploma2 PAI di STAIN Pekalongan, ketika Prodi tersebut di hapuskan maka HMPS nya pun ikut di hapuskan. Karena keberadaan HMPS bergantung dari Program Studinya. Sejak awal berdiri Program Studi Strata1 PAI, Mahasiswa PAI berada dalam naungan HMJ Tarbiyah (Sekarang |Dema F) , karena pada waktu itu Program Studi PBA belum muncul, maka HMJ Tarbiah di rasa cukup sebagai wadah mahasiswa PAI.

Kemudian semenjak munculnya Program Studi Pendidikan Bahasa Arab dan di susul berdirinya HMPS PBA pada bulan Februari 2010, maka pada bulan yang sama mahasiswa PAI yang di motori sahabat Abdul Adhim dan kawan-kawan melaksanakan musyawarah dalam rangka pembentukan suatu organisasi sebagai wadah bagi mahasiswa PAI secara khusus dengan diikuti perwakilan dari seluruh kelas Program Studi PAI angkatan 2010 dan perwakilan dari HMJ Tarbiyah serta HMPS PBA pada tanggal 14 februari 2010. Akhirnya dalam musyawarah tersebut memutuskan Sahabat Abdul Adhim sebagai ketua pertama Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam. Namun organisasi ini baru di sahkan pada tanggal 10 juni 2011 dengan surat keputusan nomor : Sti.20/C-II/PP.00.9/685/2010.Seiring berjalannya waktu setelah lembaga STAIN PEKALONGAN beralih status menjadi IAIN PEKALONGAN, HMPS PAI akan mengikuti perubahan tersebut dengan berganti nama menjadi HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) PAI. Dan baru-baru ini karena perubahan status dari STAIN menjadi IAIN maka Nama HMPS pun merubah Menjadi HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan).
Read more ...

Friday, May 19, 2017

Sholat tahajud


Sholat tahajud

Cara Mengerjakan Shalat Sunah Tahajud sebenarnya masih sama dg cara mengerjakan shalat – shalat pada umumnya yang di awali dg Bacaan Niat Shalat dan diakhiri dg Salam, hanya saja terdapat perbedaan bacaan niat shalatnya saja. Sedangkan untuk Pengertian Shalat Sunah Tahajud sendiri ialah Shalat Sunah yg dikerjakan malaam hari setelah bangun tidur dg jumlah Raka’at minimal 2 Raka’at dan maksimal tidak terbatas yang masing –  masing pada Raka’at kedua di barengi dg Salam.
Kemudian Waktu Mengerjakan Shalat Sunah Tahajud dilakukan hanya pada malam hari setelah Shalat Isya sampai masuk waktu shalat subuh dan Cara Shalat Tahajud sendiri dilakukan setelah anda tertidur atau bangun tidur walaupun tidur anda hanya sebentar sekali, Sehingga jika anda mengerjakan Shalat Sunah Tahajud ini sebelum anda tidur dahulu maka bisa dipastikan bahwa Shalat tersebut hanya shalat sunah biasa (witir) bukan Shalat Sunah Tahajud.
Adapun Waktu Shalat Tahajud sebaiknya di lakukan pada saat tengah malam atau sekitar jam 01.00 pagi sampai waktu Subuh karena waktu tersebut merupakan waktu paling utama untuk mengerjakan Sholat Sunnah Tahajud ini. Walaupun dikerjakan di tengah malam namun Keutamaan Shalat Tahajud ini sangatlah banyak yg antara lain Alloh akan melindungi anda dari segala macam bencana atau bala, Wajah akan nampak bersinar, akan dicintai oleh Alloh dan hamba Alloh, akan mendapatkan pahala yg banyak, akan diampuni segala dosa – dosanya dan akan di kabulkan segala hajat dan doanya.
Manfaat Shalat Tahajud diatas sudah di terangkan oleh Firman Alloh Swt pd Surat Al Isra ayat 79 yg berbunyi, ”’ Hendaknya kamu gunakan sebagian waktu malam itu untuk shalat Sunat tahajud, sebagai shalat sunah untuk dirimu, mudah – mudahan Alloh (Tuhan) akan membangkitkan engkau dg kedudukan yg lebih baik (QS. Al Isra Ayat ; 79) ”’.
Cara Mengerjakan Shalat Tahajud Terlengkap


Bacaan Niat Shalat Tahajud Lengkap
Terjemahan Niat Shalat Tahajud, ” USHALLI SUNNATAT TAHAJJUDI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALAA ”, kemudian untuk Pengertian Niat Shalat Tahajud diatas, ”’ Aku Niat Shalat Sunah Tahajud dua raka’at karena Alloh Ta’ala ”’.
Setelah membaca Niat Shalat Sunah Tahajud lalu dilanjut dg membaca Doa Shalat Tahajud Surat Al Fatihah, lalu membaca Suratan pd Rakaat pertama dan Rakaat kedua, Ruku, Itidal, Sujud sampai yg terakhir Salam.
Setelah membaca Surat Al Fatihah seperti diatas anda bisa membaca Surat An Nas di Raka’at pertama seperti dibawah ini
Kemudian anda Ruku, Itidal, Sujud dan kembali ke Raka’at Kedua dan membaca lagi Surat Al Fatihah, kemudian membaca Suratan pada Raka’at kedua. Untuk Bacaan Suratanya bisa dg membaca Doa Shalat Tahajud Surat Al Falaq seperti dibawah
Mengapa anda diutamakan membaca bacaan Doa Shalat Sunah Tahajud Suratan An Nas dan Al Falaq seperti diatas karena kedua Suratan tersebut mempunyai pengertian untuk memohon perlindungan kpd Alloh dari segala macam godaan setan. Namun anda bisa membaca Suratan lainnya di masing – masing Raka’atnya, tidak harus membaca Surat Al Falaq dan Surat An Nas.
Doa Setelah Shalat Tahajud Terlengkap
Adapun Setelah Mengerjakan Shalat Sunah Tahajud maka duduklah dg khusyu sambil membaca bacaan Doa Setelah Shalat Tahajud atau di awali dulu dg bacaan – bacaan dzikir seperti membaca Istighfar,Tasbih, Tahmid, dan Shalawat Nabi karena dg Berzikir kita menjadi lebih dekat dg Alloh.
Bacaan Dzikir Istighfar tersebut sebaiknya dibacakan sebanyak – banyaknya atau minimal sebanyak 100 kali, setelah itu bisa dilanjutkan dg membaca Tasbih dan Shalawat Nabi.
Bacaan Dzikir Tasbih (diatas) dan Shalawat Nabi Muhammad Saw (dibawah) dibacakan sebanyak 32 kali atau lebih


Ingat bahwa fungsi dari Berdzikir itu untuk semakin mendekatkan diri kita kepada Sang pecipta Alloh Swt sehingga sebaiknya di bacaan dg ikhlas dan khusyu. Setelah anda selesai Berzikir anda bisa langsung membaca Bacaan Doa Setelah Shalat Tahajud yg sdh saya buat dibawah ini, tinggal anda baca, hafallkan dan diamalkan dirumah.
Read more ...

Tuesday, May 2, 2017

cara menghapus tulisan tampilkan posting dengan label



page 3

.status-msg-body{
display:none;
}
.status-msg-border{
display:none;
}

]]></b:skin>
Read more ...

Friday, April 28, 2017

Sholat tarawih dan witir


Sholat tarawih
Cara Mengerjakan Shalat Tarawih merupakan salah satu ilmu yang perlu kalian pahami dan pelajari sebagai seorang Muslim karena Shalat Tarawih sendiri merupakan salah satu Shalat Sunnah didalam Ajaran Agama Islam yg mempunyai keutamaan banyak dan untuk Hukum Mengerjakan Shalat Tarawih ialah Sunnah Muakkad dengan artian Shalat Sunnah yg sangat baik atau dianjurkan untuk dikerjakan karena memiliki khualitas pahala seperti mengerjakan Shalat Wajib Lima Waktu sehingga bagi setiap Muslim yg mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih maka akan mendapatkan Pahala yg banyak dan jika mereka meninggalkan Shalat Tarawih maka tidak akan mendapatkan Dosa dan Pahala, hanya saja mereka akan menyesal dan sangat merugi jika tidak mengerjakan Shalat Tarawih karena Keutamaan Shalat Tarawih yg banyak tidak mereka dapatkan.
Lalu didalam Keutamaan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan yg bisa kalian dapatkan antara lain akan diampuni dosa – dosa yg lalu bagi mereka yang mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih di Bulan Ramadhan seperti diterangkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda yg berbunyi, ” Barangsiapa yg mengerjakan Qiyam Ramadhan (Shalat Tarawih) karena iman dan mencari pahala maka dosa – dosa mereka yg lalu akan diampuni oleh Alloh Swt (Hadist Riwayat Bukhari dan Muslim) ”. Untuk Keistimewaan Shalat Tarawih selanjutnya ialah akan mendapatkan Pahala seperti mengerjakan Shalat Sunnah semalam penuh, dari Abu Dzar bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda, ” Barangsiapa yg mengerjakan Shalat bersama imam (secara berjamaah) sampai selesai maka akan dituliskan pahala shalat satu malam penuh ”.
Sedangkan untuk Waktu Mengerjakan Shalat Tarawih dilakukan di malam hari setelah mengerjakan shalat wajib isya sampai sebelum terbitnya fajar di Bulan Ramadhan pada Kalender Hijriah selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan dan Shalat Tarawih sendiri dapat dikerjakan secara Berjamaah maupun sendirian, hanya saja Shalat Tarawih yang dikerjakan secara berjamaah akan mendapatkan pahala yg lebih banyak daripada mengerjakan Shalat Tarawih secara sendirian sehingga ada baiknya jika kalian sebagai seorang Muslim mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih di Bulan Ramadhan ini secara berjamaah bareng bersama Imam Shalat dan Makmum Shalat Tarawih daripada mengerjakan Shalat Tarawih secara sendirian dirumah.


Niat dan Cara Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan

Sebelum membahas secara lebih jauh tentang Cara Mengerjakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan, ada baiknya jika kalian mengetahui tentang Jumlah Raka’at Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan karena terdapat perbedaan Jumlah Raka’at Tarawih seperti ada yang mengerjakan Shalat Tarawih 23 Raka’at dan ada yg 11 Rakaat, namun didlm Shalat Tarawih 23 Rakaat pertama kali diterapkan oleh Sahabat Umar bin Khattab pada masa Khalifah Umar Bin Khattab karena pada masa Nabi Muhammad Saw pernah mengerjakan Shalat Tarawih selama tiga atau empat kali saja, hanya saja Nabi Muhammad Saw menghentikan Shalat Sunnah Tarawih ini karena beliau merasa khawatir jika Shalat Tarawih akan menjadi wajib dikerjakan hukumnya.
Lalu dimasa Khalifah Umar bin Khattab, Sahabat Umar menerapkan lagi Shalat Sunnah Tarawih di Bulan Ramadhan dan Shalat Tarawih dikerjakan secara berjamaah dengan Jumlah 23 Raka’at (20 Rakaat Shalat Tarawih dan 3 Raka’at Shalat Witir) yg telah disetujui oleh Empat Mazhab yg berbeda yaitu Mazhab Maliki, Mazhab Hambali, Mazhab Syafi’i dan Mazhab Hanafi sehingga mulai saat itu semua Muslim banyak yg mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih dengan 23 Raka’at. Sedangkan untuk Jumlah Raka’at Shalat Tarawih 8 Raka’at dan 11 Raka’at pertama kali dilakukan oleh Orang Muslim di Akhir Zaman seperti oleh Ash Shan’ani tahun 1182 H, Al Mubarakfury tahun 1353 H dan Al Albani, tetapi mereka semua tidak menyalahkan Shalat Tarawih dengan Jumlah 23 Raka’at.
Niat Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan
Untuk Bacaan Niat Shalat Tarawih Dua Raka’at sebagai Makmum Shalat Tarawih, Niat Sholat Tarawih Dua Raka’at Sebagai Imam Shalat Tarawih dan Niat Mengerjakan Shalat Tarawih Dua Raka’at Sendirian diatas telah kami buatkan secara lengkap karna didalamnya telah terdapat Bahasa Arab, Terjemahan Bahasa Latin dan Terjemahan Bahasa Indonesianya sehingga diharapkan dapat memudahkan para pembaca dalam membaca dan menghafalkan Bacaan Niat Melaksanakan Shalat Tarawih di Bulan Ramadhan baik secara berjamaah maupun sendirian.

Cara Mengerjakan Shalat Tarawih Lengkap
Sehingga untuk kesimpulan Shalat Tarawih sendiri dilakukan dimalam hari setelah Shalat Isya sampai sebelum terbitnya fajar selama satu bulan penuh di Bulan Ramadhan yg dikerjakan secara berjamaah maupun sendiri dan mempunyai Jumlah Raka’at 23 Raka’at (20 Rakaat Shalat Tarawih dan 3 Rakaat Shalat Witir) yg dikerjakan masing – masing Dua Raka’at terdapat Satu Salam sehingga jika kalian mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih dengan 20 Raka’at maka terdapat 10 Salam didalamnya. Adapun untuk Tata Cara Shalat Tarawih sendiri sangatlah mudah karena dikerjakan seperti mengerjakan Shalat Sunnah Dua Raka’at lainnya diawali dengan membaca Niat Sholat Tarawih Dua Raka’at yg diakhiri dengan salam di Raka’at Kedua.
Sedangkan untuk Gerakan Shalat Tarawih di masing – masing Raka’at masih sama seperti mengerjakan Shalat Wajib maupun Shalat Sunnah Dua Raka’at lainnya sehingga kami yakin kalian tidak mengalami kesulitan dlm mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih di Bulan Suci Ramadhan ini. Kemudian dlm Sholat Tarawih di Bulan Suci Ramadhan disunnahkan membaca Shalawat Nabi Muhammad Saw yg bisa dibacakan disetiap sebelum mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih Dua Raka’at secara berjamaah dan untuk Langkah – Langkah Melakukan Sholat Tarawih Secara Berjamaah yg dikerjakan selepas Shalat Wajib Isya di malam hari pada Bulan Ramadhan, maka Bilal dan Makmum Sholat Tarawih bersama – sama membaca Shalawat dan Doa seperti dibawah ini :


Kemudian setelah kalian selesai mengerjakan Shalat Tarawih dengan 20 Raka’at di Bulan Ramadhan maka kalian bisa langsung melanjutkan mengerjakan Shalat Sunnah Witir dengan Jumlah Rakaat satu atau tiga Raka’at didalamnya secara berjamaah atau sendirian karena untuk Hukum Mengerjakan Shalat Witir sendiri ialah Sunnah bagi setiap Muslim sehingga ada baiknya jika kalian sebagai seorang Muslim langsung mengerjakan Shalat Sunnah Witir ini sesaat selesai mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih 20 Rakaat secara berjamaah. Adapun setelah kalian selesai mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih dan Shalat Sunnah Witir ada baiknya kalian membaca Doa Setelah Shalat Tarawih yang telah dilengkapi terlebih dahulu dengan membaca Dzikir Dzikir seperti Dzikir Tahlil, Tahmid, Takbir, Shalawat Nabi Muhammad Saw dan Dzikir lainnya karena harus selalu kalian ingat bahwa di Bulan Ramadhan merupakan Bulan yg penuh berkah, mulia dan Bulan dimana Pahala semua amalan baik dilipat gandakan sehingga sudah sangat efektif sekali jika kalian sebagai seorang Muslim banyak melakukan amalan – amalan baik di Bulan Ramadhan termasuk salah satunya mengerjakan Shalat Sunnah Tarawih dan Shalat Sunnah Witir.

Sholat witir
Cara Mengerjakan Shalat Witir – Pengertian Shalat Witir adalah Shalat Sunah dg jumlah Raka’at satu, dua, tiga, lima, tujuh dan maksimal sebelas Raka’at yang dikerjakan setelah Shalat Isya sampai terbitnya fajar atau masuk waktu Shalat Subuh dan untuk Hukum Mengerjakan Shalat Witir ini ialah sunah tetapi shalat sunah yg sangat penting untuk di kerjakan karena Alloh Swt sangat menyukai witir seperti Hadist yg berbunyi, ” Hai Para Pencita – cita Al-Qur’an kerjakanlah Shalat Witir sebab Alloh Swt itu tunggal dan dia suka kpd bilangan witir ”.
Sedangkan untuk Cara Shalat Witir ini bisa dilakukan dg jumlah Raka’at minimal 1 Raka’at dan Maksimal 11 Raka’at tetapi dalam bilangan ganjil karena Nabi Muhammad Saw tak pernah mengerjakan Shalat Witir melebihi sebelas Raka’at dan Cara Mengerjakan Shalat Witir ini jg bisa dg jumlah 2 raka’at dg satu salam. Kemudian jika di bulan Ramadhan kita disunahkan untuk mengerjakan witir ini pd raka’at terakhir yakni sesudah i’tidal dan biasanya dilakukan dg jumlah raka’at 1 atau 2 raka’at tergantung imam Shalat pd waktu Tarawih.
Keutamaan Shalat Witir dan Manfaat Shalat Witir bagi seseorang yg mengerjakan-nya akan mendapatkan pahala yg begitu besar karena Alloh Swt sangat mencintai witir dan menyukai sesuatu yg ganjil dan Nabi Muhammad Saw jg pernah bersabda yg berbunyi, ” Sesungguhnya Alloh Swt telah menambahkan kalian dg Satu Shalat yg Shalat itu lebih baik untuk dirimu dari pd unta yg merah yakni Shalat Witir ”.
Melihat Keistimewaan Shalat Sunah Witir diattas maka ada baiknya jika anda mulai mengerjakan Shalat Witir dan mengetahui Tata Cara Shalat Witir dg benar sehingga anda dlm mengerjakan Shalat Witir ini dpt bermanfaat dan berkah untuk anda.
Tata Cara Mengerjakan Shalat Witir Terlengkap

Tata Cara Mengerjakan Shalat Witir sebenarnya masih sama dg Tata Cara Shalat pada umumnya seperti Shalat Wajib dan Shalat sunah lainnya yang di awali dg Niat Shalat, Takbiratul Ikhram dan di akhirii dg Salam. untuk perbedaannya hanya terletak pada Niat Shalat dan Bacaan Doa Setelah Shalatnya saja sehingga anda harus mengetahui dan menghafalkan dg betul Niat Shalat Witir seperti dibawah ini.

Terjemahan Niat Shalat diatas, ” USHALLI SUNNATAL WITRI RAK’ATAINI LILLAAHI TA’AALA”. Kemudian setelah membaca Niat Shalat Witir tinggal Takbiratul Ikhram, Membaca Surat Iftitah dan Surat Al Fatihah.
Tata Cara Shalat Witir setelah membacaa Surat Al Fatihah ialah membaca Suratan terserah anda, disini saya mencontohkan membaca Surat Al Ikhlas karena selain pendek namun mempunyai banyak sekali keutamaannya.
Catatan bahwa surat al ikhlas diatas dibacakan di Raka’at pertama dan setelah itu Cara Mengerjakan Shalat Witir selanjutnya Ruku, Itidal, Sujud dan kembali ke Raka’at Kedua Sampai selesai (Salam) dan sekali lagi Cara Melaksanakan Shalat Witir dari gerakan dan doa shalatnya masih sama seperti shalat pd umumnya.
Doa Setelah Shalat Witir Terlengkap
Doa Setelah Shalat Witir ini dibacakan setelah anda selesai menunaikan Shalat Witir dan kalau bisa ditambahkan dg membaca Suratan Dzikir yg berguna untuk mendekatkan anda dg Alloh Swt.

Read more ...

Sholat rawatib


Sholat rawatib
1. Keutamaan Sholat Rawatib
Ummu Habibah radiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang keutamaan sholat sunnah rawatib, dia berkata: saya mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang sholat dua belas rakaat pada siang dan malam, maka akan dibangunkan baginya rumah di surga“. Ummu Habibah berkata: saya tidak pernah meninggalkan sholat sunnah rawatib semenjak mendengar hadits tersebut. ‘Anbasah berkata: Maka saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari Ummu Habibah. ‘Amru bin Aus berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Ansabah. An-Nu’am bin Salim berkata: Saya tidak pernah meninggalkannya setelah mendengar hadits tersebut dari ‘Amru bin Aus. (HR. Muslim no. 728).
‘Aisyah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan sebuah hadits tentang sholat sunnah rawatib sebelum (qobliyah) shubuh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda, “Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya“. Dalam riwayat yang lain, “Dua raka’at sebelum shubuh lebih aku cintai daripada dunia seisinya” (HR. Muslim no. 725)
Adapun sholat sunnah sebelum shubuh ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah rawatib dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkannya baik ketika mukim (tidak berpegian) maupun dalam keadaan safar.
Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha telah meriwayatkan tentang keutamaan rawatib dzuhur, dia berkata: saya mendengar rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang menjaga (sholat) empat rakaat sebelum dzuhur dan empat rakaat sesudahnya, Allah haramkan baginya api neraka“. (HR. Ahmad 6/325, Abu Dawud no. 1269, At-Tarmidzi no. 428, An-Nasa’i no. 1814, Ibnu Majah no. 1160)
2. Jumlah Sholat Sunnah Rawatib
Hadits Ummu Habibah di atas menjelaskan bahwa jumlah sholat rawatib ada 12 rakaat dan penjelasan hadits 12 rakaat ini diriwayatkan oleh At-Tarmidzi dan An-Nasa’i, dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan dua belas (12) rakaat pada sholat sunnah rawatib, maka Allah akan bangunkan baginya rumah di surga, (yaitu): empat rakaat sebelum dzuhur, dan dua rakaat sesudahnya, dan dua rakaat sesudah maghrib, dan dua rakaat sesudah ‘isya, dan dua rakaat sebelum subuh“. (HR. At-Tarmidzi no. 414, An-Nasa’i no. 1794)
3. Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Qobliyah Subuh
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh membaca surat Al Kaafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد).”  (HR. Muslim no. 726)
Dan dari Sa’id bin Yasar, bahwasannya Ibnu Abbas mengkhabarkan kepadanya: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada sholat sunnah sebelum subuh dirakaat pertamanya membaca: (قولوا آمنا بالله وما أنزل إلينا) (QS. Al-Baqarah: 136), dan dirakaat keduanya membaca: (آمنا بالله واشهد بأنا مسلمون) (QS. Ali Imron: 52). (HR. Muslim no. 727)
4. Surat yang Dibaca pada Sholat Rawatib Ba’diyah Maghrib
Dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anha, dia berkata: Saya sering mendengar Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau membaca surat pada sholat sunnah sesudah maghrib:” surat Al Kafirun (قل يا أيها الكافرون) dan surat Al Ikhlas (قل هو الله أحد). (HR. At-Tarmidzi no. 431, berkata Al-Albani: derajat hadits ini hasan shohih, Ibnu Majah no. 1166)
5. Apakah Sholat Rawatib 4 Rakaat Qobiyah Dzuhur Dikerjakan dengan Sekali Salam atau Dua Kali Salam?
As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sunnah Rawatib terdapat di dalamnya salam, seseorang yang sholat rawatib empat rakaat maka dengan dua salam bukan satu salam, karena sesungguhnya nabi bersabda: “Sholat (sunnah) di waktu malam dan siang dikerjakan dua rakaat salam dua rakaat salam”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/288)
6. Apakah Pada Sholat Ashar Terdapat Rawatib?
As-Syaikh Muammad bin Utsaimin rahimahullah berkata, “Tidak ada sunnah rawatib sebelum dan sesudah sholat ashar, namun disunnahkan sholat mutlak sebelum sholat ashar”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Al-Utsaimin 14/343)
7. Sholat Rawatib Qobliyah Jum’at
As-Syaikh Abdul ‘Azis bin Baz rahimahullah berkata: “Tidak ada sunnah rawatib sebelum sholat jum’at berdasarkan pendapat yang terkuat di antara dua pendapat ulama’. Akan tetapi disyari’atkan bagi kaum muslimin yang masuk masjid agar mengerjakan sholat beberapa rakaat semampunya” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 12/386&387)
8. Sholat Rawatib Ba’diyah Jum’at
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang di antara kalian mengerjakan sholat jum’at, maka sholatlah sesudahnya empat rakaat“. (HR. Muslim no. 881)
As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, “Adapun sesudah sholat jum’at, maka terdapat sunnah rawatib sekurang-kurangnya dua rakaat dan maksimum empat rakaat” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Bin Baz 13/387)
9. Sholat Rawatib Dalam Keadaan Safar
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu a’laihi wa sallam didalam safar senantiasa mengerjakan sholat sunnah rawatib sebelum shubuh dan sholat sunnah witir dikarenakan dua sholat sunnah ini merupakan yang paling utama di antara sholat sunnah, dan tidak ada riwayat bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan sholat sunnah selain keduanya”. (Zaadul Ma’ad 1/315).
As-Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata: “Disyariatkan ketika safar meninggalkan sholat rawatib kecuali sholat witir dan rawatib sebelum subuh”. (Majmu’ Fatawa 11/390).
10. Tempat Mengerjakan Sholat Rawatib
Dari Ibnu Umar radiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah di rumah-rumah kalian dari sholat-sholat dan jangan jadikan rumah kalian bagai kuburan“. (HR. Bukhori no. 1187, Muslim no. 777)
As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sudah seyogyanya bagi seseorang untuk mengerjakan sholat rawatib di rumahnya…. meskipun di Mekkah dan Madinah sekalipun maka lebih utama dikerjakan dirumah dari pada di masjid Al-Haram maupun masjid An-Nabawi; karena saat Nabi shallallahu a’alihi wasallam bersabda sementara beliau berada di Madinah….. Ironisnya manusia sekarang lebih mengutamakan melakukan sholat sunnah rawatib di masjidil haram, dan ini termasuk bagian dari kebodohan”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/295)
11. Waktu Mengerjakan Sholat Rawatib
Ibnu Qudamah berkata: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (Al-Mughni 2/544)
12. Mengganti (mengqodho’) Sholat Rawatib
Dari Anas radiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang lupa akan sholatnya maka sholatlah ketika dia ingat, tidak ada tebusan kecuali hal itu“. (HR. Bukhori no. 597, Muslim no. 680)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dan hadits ini meliputi sholat fardhu, sholat malam, witir, dan sunnah rawatib”. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah, 23/90)
13. Mengqodho’ Sholat Rawatib Di Waktu yang Terlarang
Ibnu Qoyyim berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meng-qodho’ sholat ba’diyah dzuhur setelah ashar, dan terkadang melakukannya terus-menerus, karena apabila beliau melakukan amalan selalu melanggengkannya. Hukum mengqodho’ diwaktu-waktu terlarang bersifat umum bagi nabi dan umatnya, adapun dilakukan terus-menerus pada waktu terlarang merupakan kekhususan nabi”. (Zaadul Ma’ad  1/308)
14. Waktu Mengqodho’ Sholat Rawatib Sebelum Subuh
Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang belum mengerjakan dua rakaat sebelum sholat subuh, maka sholatlah setelah matahari terbit“. (At-Tirmdzi 423, dan dishahihkan oleh Al-albani)
Dan dari Muhammad bin Ibrahim dari kakeknya Qois, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar rumah mendatangi sholat kemudian qomat ditegakkan dan sholat subuh dikerjakan hingga selesai, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling menghadap ma’mum, maka beliau mendapati saya sedang mengerjakan sholat, lalu bersabda: “Sebentar wahai Qois apakah ada sholat subuh dua kali?“. Maka saya berkata: Wahai rasulullah sungguh saya belum mengerjakan sholat sebelum subuh, Tasulullah bersabda: “Maka tidak mengapa“. (HR. At-Tirmidzi). Adapun pada Abu Dawud dengan lafadz: “Maka rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diam (terhadap yang dilakukan Qois)”. (HR. At-tirmidzi no. 422, Abu Dawud no. 1267, dan Al-Albani menshahihkannya)
As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang masuk masjid mendapatkan jama’ah sedang sholat subuh, maka sholatlah bersama mereka. Baginya dapat mengerjakan sholat dua rakaat sebelum subuh setelah selesai sholat subuh, tetapi yang lebih utama adalah mengakhirkan sampai matahari naik setinggi tombak” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Ibrahim 2/259 dan 260)
15. Jika Sholat Subuh Bersama Jama’ah Terlewatkan, Apakah Mengerjakan Sholat Rawatib Terlebih Dahulu atau Sholat Subuh?
As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Sholat rawatib didahulukan atas sholat fardhu (subuh), karena sholat rawatib qobliyah subuh itu sebelum sholat subuh, meskipun orang-orang telah keluar selesai sholat berjama’ah dari masjid” (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsatimin 14/298)
16. Pengurutan Ketika Mengqodho’
As-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Apabila didalam sholat itu terdapat rawatib qobliyah dan ba’diyah, dan sholat rawatib qobliyahnya terlewatkan, maka yang dikerjakan lebih dahulu adalah ba’diyah kemudian qobliyah, contoh: Seseorang masuk masjid yang belum mengerjakan sholat rawatib qobliyah mendapati imam sedang mengerjakan sholat dzuhur, maka apabila sholat dzuhur telah selesai, yang pertamakali dikerjakan adalah sholat rawatib ba’diyah dua rakaat, kemudian empat rakaat qobliyah”. (Syarh Riyadhus Sholihin, 3/283)
17. Mengqodho’ Sholat Rawatib yang Banyak Terlewatkan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Diperbolehkan mengqodho’ sholat rawatib dan selainnya, karena merupakan sholat sunnah yang sangat dianjurkan (muakkadah)… kemudian jika sholat yang terlewatkan sangat banyak, maka yang utama adalah mencukupkan diri mengerjakan yang wajib (fardhu), karena mendahulukan untuk menghilangkan dosa adalah perkara yang utama, sebagaimana “Ketika Rasulullah mengerjakan empat sholat fardhu yang tertinggal pada perang Khondaq, beliau mengqodho’nya secara berturut-turut”. Dan tidak ada riwayat bahwasannya Rasulullah mengerjakan sholat rawatib diantara sholat-sholat fardhu tersebut.…. Dan jika hanya satu atau dua sholat yang terlewatkan, maka yang utama adalah mengerjakan semuanya sebagaimana perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat sholat subuh terlewatkan, maka beliau mengqodho’nya bersama sholat rawatib”. (Syarh Al-‘Umdah, hal. 238)
18. Menggabungkan Sholat-sholat Rawatib, Tahiyatul Masjid, dan Sunnah Wudhu’
As-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah berkata: “Apabila seseorang masuk masjid diwaktu sholat rawatib, maka ia bisa mengerjakan sholat dua rakaat dengan niat sholat rawatib dan tahiyatul masjid, dengan demikian tertunailah dengan mendapatkan keutamaan keduanya. Dan demikian juga sholat sunnah wudhu’ bisa digabungkan dengan keduanya (sholat rawatib dan tahiyatul masjid), atau digabungkan dengan salah satu dari keduanya”. (Al-Qawaid Wal-Ushul Al-Jami’ah, hal. 75)
19. Menggabungkan Sholat Sebelum Subuh dan Sholat Duha Pada Waktu Dhuha
As-Syaikh Muhammad Bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Seseorang yang sholat qobliyah subuhnya terlewatkan sampai matahari terbit, dan waktu sholat dhuha tiba. Maka pada keadaan ini, sholat rawatib subuh tidak terhitung sebagai sholat dhuha, dan sholat dhuha juga tidak terhitung sebagai sholat rawatib subuh, dan tidak boleh juga menggabungkan keduanya dalam satu niat. Karena sholat dhuha itu tersendiri dan sholat rawatib subuh pun juga demikian, sehingga tidaklah salah satu dari keduanya terhitung (dianggap) sebagai yang lainnya. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, 20/13)
20. Menggabungkan Sholat Rawatib dengan Sholat Istikharah
Dari Jabir bin Abdullah radiyallahu ‘anhuma berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kami sholat istikhorah ketika menghadapi permasalahan sebagaimana mengajarkan kami surat-surat dari Al-Qur’an”, kemudian beliau bersabda: “Apabila seseorang dari kalian mendapatkan permasalahan, maka sholatlah dua rakaat dari selain sholat fardhu…” (HR. Bukhori no. 1166)
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Jika seseorang berniat sholat rawatib tertentu digabungkan dengan sholat istikhorah maka terhitung sebagai pahala (boleh), tetapi berbeda jika tidak diniatkan”. (Fathul Bari 11/189)
21. Sholat Rawatib Ketika Iqomah Sholat Fardhu Telah Dikumandangkan
Dari Abu Huroiroh radiyallahu ‘anhu, dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat fardhu“. (HR. Muslim bi As-syarh An-Nawawi 5/222). An-Nawawi berkata: “Hadits ini terdapat larangan yang jelas dari mengerjakan sholat sunnah setelah iqomah sholat dikumandangkan sekalipun sholat rawatib seperti rawatib subuh, dzuhur, ashar dan selainnya” (Al-Majmu’ 3/378)
22. Memutus Sholat Rawatib Ketika Sholat Fardhu ditegakkan
As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Apabila sholat telah ditegakkan dan ada sebagian jama’ah sedang melaksanakan sholat tahiyatul masjid atau sholat rawatib, maka disyari’atkan baginya untuk memutus sholatnya dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan sholat fardhu, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Apabila iqomah sholat telah ditegakkan maka tidak ada sholat kecuali sholat fardhu..“, akan tetapi seandainya sholat telah ditegakkan dan seseorang sedang berada pada posisi rukuk dirakaat yang kedua, maka tidak ada halangan bagi dia untuk menyelesaikan sholatnya. Karena sholatnya segera berakhir pada saat sholat fardhu baru terlaksana kurang dari satu rakaat”. (Majmu’ Fatawa 11/392 dan 393)
23. Apabila Mengetahui Sholat Fardhu Akan Segera Ditegakkan, Apakah Disyari’atkan Mengerjakan Sholat Rawatib?
As-Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Sudah seharusnya (mengenai hal ini) dikatakan: “Sesungguhnya tidak dianjurkan mengerjakan sholat rawatib diatas keyakinan yang kuat bahwasannya sholat fardhu akan terlewatkan dengan mengerjakannya. Bahkan meninggalkannya (sholat rawatib) karena mengetahui akan ditegakkan sholat bersama imam dan menjawab adzan (iqomah) adalah perkara yang disyari’atkan. Karena menjaga sholat fardhu dengan waktu-waktunya lebih utama daripada sholat sunnah rawatib yang bisa dimungkinkan untuk diqodho'”. (Syarh Al-‘Umdah, hal. 609)
24. Mengangkat Kedua Tangan Untuk Berdo’a Setelah Menunaikan Sholat Rawatib
As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Sholat Rawatib: Saya tidak mengetahui adanya larangan dari mengangkat kedua tangan setelah mengerjakannya untuk berdo’a, dikarenakan beramal dengan keumuman dalil (akan disyari’atkan mengangkat tangan ketika berdo’a). Akan tetapi lebih utama untuk tidak melakukannya terus-menerus dalam hal itu (mengangkat tangan), karena tidaklah ada riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan demikian, seandainya beliau melakukannya setiap selesai sholat rawatib pasti akan ada riwayat yang dinisbahkan kepada beliau. Padahal para sahabat meriwayatkan seluruh perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan rasulullah baik ketika safar maupun tidak. Bahkan seluruh kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radiyallahu ‘anhum tersampaikan”. (Arkanul Islam, hal. 171)
25. Kapan Sholat Rawatib Ketika Sholat Fardhu DiJama’?
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Sholat rawatib dikerjakan setelah kedua sholat fardhu dijama’ dan tidak boleh dilakukan di antara keduanya. Dan demikian juga sholat rawatib qobliyah dzuhur dikerjakan sebelum kedua sholat fardhu dijama'”. (Shahih Muslim Bi Syarh An-Nawawi, 9/31)
26. Apakah Mengerjakan Sholat Rawatib Atau Mendengarkan Nasihat?
Dewan Tetap untuk Penelitian Ilmiyah dan Fatwa Saudi: “Disyariatkan bagi kaum muslimin jika mendapatkan nasihat (kultum) setelah sholat fardhu hendaknya mendengarkannya, kemudian setelahnya ia mengerjakan sholat rawatib seperti ba’diyah dzuhur, maghbrib dan ‘isya” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah LilBuhuts Al-‘Alamiyah Wal-Ifta’, 7/234)
27. Mendahulukan Menyempurnakan Dzikir-dzikir setelah Sholat Fardhu Sebelum Menunaikan Sholat Rawatib
As-Syaikh Abdullah bin Jibrin rahimahullah ditanya: “Apabila saya mengerjakan sholat jenazah setelah maghrib, apakah saya langsung mengerjakan sholat rawatib setelah selesai sholat jenazah ataukah menyempurnakan dzikir-dzikir kemudian sholat rawatib?
Jawaban beliau rahimahullah: “Yang lebih utama adalah duduk untuk menyempurnakan dzikir-dzikir kemudian menunaikan sholat rawatib. Maka perkara ini disyariatkan baik ada atau tidaknya sholat jenazah. Maka dzikir-dzikir yang ada setelah sholat fardhu merupakan sunnah yang selayaknya untuk dijaga dan tidak sepantasnya ditinggalkan. Maka jika anda memutus dzikir tersebut karena menunaikan sholat jenazah, maka setelah itu hendaknya menyempurnakan dzikirnya ditempat anda berada, kemudian mengerjakan sholat rawatib yaitu sholat ba’diyah. Hal ini mencakup rawatib ba’diyah dzuhur, maghrib maupun ‘isya dengan mengakhirkan sholat rawatib setelah berdzikir”. (Al-Qoul Al-Mubin fii Ma’rifati Ma Yahummu Al-Mushollin, hal. 471)
28. Tersibukkan Dengan Memuliakan Tamu Dari Meninggalkan Sholat Rawatib
As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Pada dasarnya seseorang terkadang mengerjakan amal yang kurang afdhol (utama) kemudian melakukan yang lebih afdhol (yang semestinya didahulukan) dengan adanya sebab. Maka seandainya seseorang tersibukkan dengan memuliakan tamu di saat adanya sholat rawatib, maka memuliakan tamu didahulukan daripada mengerjakan sholat rawatib”. (Majmu’ Fatawa As-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin 16/176)
29. Sholatnya Seorang Pekerja Setelah Sholat Fardhu dengan Rawatib Maupun Sholat Sunnah lainnya.
As-Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullah berkata: “Adapun sholat sunnah setelah sholat fardhu yang bukan rawatib maka tidak boleh. Karena waktu yang digunakan saat itu merupakan bagian dari waktu kerja semisal aqad menyewa dan pekerjaan lain. Adapun melakukan sholat rawatib (ba’da sholat fardhu), maka tidak mengapa. Karena itu merupakan hal yang biasa dilakukan dan masih dimaklumi (dibolehkan) oleh atasannya”.
30. Apakah Meninggalkan Sholat Rawatib Termasuk Bentuk Kefasikan?
As-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Perkataan sebagian ulama’: (Sesungguhnya meninggalkan sholat rawatib termasuk fasiq), merupakan perkataan yang kurang baik, bahkan tidak benar. Karena sholat rawatib itu adalah nafilah (sunnah). Maka barangsiapa yang menjaga sholat fardhu dan meninggalkan maksiat tidaklah dikatakan fasik bahkan dia adalah seorang mukmin yang baik lagi adil. Dan demikian juga sebagian perkataan fuqoha’: (Sesungguhnya menjaga sholat rawatib merupakan bagian dari syarat adil dalam persaksian), maka ini adalah perkataan yang lemah. Karena setiap orang yang menjaga sholat fardhu dan meninggalkan maksiat maka ia adalah orang yang adil lagi tsiqoh. Akantetapi dari sifat seorang mukmin yang sempurna selayaknya bersegera (bersemangat) untuk mengerjakan sholat rawatib dan perkara-perkara baik lainnya yang sangat banyak dan berlomba-lomba untuk mengerjakannya”. (Majmu’ Fatawa 11/382)

Faedah:
Ibmu Qoyyim rahimahullah berkata: “Terdapat kumpulan sholat-sholat dari tuntunan nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehari semalam sebanyak 40 rakaat, yaitu dengan menjaga 17 rakaat dari sholat fardhu, 10 rakaat atau 12 rakaat dari sholat rawatib, 11 rakaat atau 13 rakaat sholat malam, maka keseluruhannya adalah 40 rakaat. Adapun tambahan sholat selain yang tersebutkan bukanlah sholat rawatib…..maka sudah seharusnyalah bagi seorang hamba untuk senantiasa menegakkan terus-menerus tuntunan ini selamanya hingga menjumpai ajal (maut). Sehingga adakah yang lebih cepat terkabulkannya do’a dan tersegeranya dibukakan pintu bagi orang yang mengetuk sehari semalam sebanyak 40 kali? Allah-lah tempat meminta pertolongan”. (Zadul Ma’ad 1/327)
Read more ...

Sholat Sunnah dhuha


Sholat Sunnah
Sholat dhuha
Sholat Dhuha merupakan Shalat Sunnah yg dikerjakan minimal dua Raka’at dan bisa dikerjakan maksimal 12 Raka’at yg masing – masing dua Raka’atnya diakhiri dg satu salam. Kemudian Waktu Sholat Dhuha sendiri bisa dikerjakan saat matahari sedang terbit atau tepatnya sekitar pukul 07.00 pagi sampai masuk waktu shalat Zhuhur lebih tepatnya kurang dari jam 12.00 siang sehingga jika anda ingin mengerjakan Sholat Dhuha ini ada baiknya sekitar jam 08.,00 – 10,00 pagi.
Keutamaan Sholat Dhuha sendiri ialah untuk memperlancarkan, melapangkan dan mempermudahkan suatu rezeki anda, Menghapus dosa – dosa anda, mendapatkan pahala sholat sunnah dan masih banyak lagi. Tetapi Manfaat Sholat Dhuha yg paling besar ialah untuk mempermudahkan Rezeki anda karena menurut sabda Nabi Muhammad Saw yg berbunyi, ” Sholat Dhuha dapat mendatangkan suatu rezeki dan menolak kekafiran, dan tidak ada yg akan memelihara Sholat Dhuha melainkan orang2 yg bertaubat ”.
Adapun Cara Mengerjakan Sholat Dhuha sendiri dilakukan seperti mengerjakan Sholat pada umumnya yg diawali dg membaca Niat Shalat, Membaca Surat Al Fatihah dan Suratan, Ruku, Itidal, Sujud dan Salam sehingga anda pasti sudah memahami Cara Mengerjakan Sholat Sunah Dhuha ini. Hanya saja saya akan memberikan beberapa Bacaan Suratan yg bisa anda baca di dlm Shalat Dhuha yg lengkap dg niat serta terjemahan seperti dibawah ini
Cara Mengerjakan Sholat Dhuha Terlengkap
Niat Sholat Dhuha Terlengkap

Terjemahan Niat Sholat Dhuha diatas, ” Ushalli Sunnatadl Dluhaa Rak’ataini lillaahi Ta’aalaa, Allahu Akbar ”. Kemudian Artian dlm Bahasa Indonesia, ”’ Aku Niat Shalat Dhuha Dua Raka’at karena Alloh Ta’ala, Alloh Maha Besar ”’. Kemudian setelah membaca Niat Shalat Dhuha, dilanjutkan membaca Suratan Al Fatihah
Untuk Raka’at pertama setelah anda membaca Surat Al Fatihah, kemudian dilanjutkan dg membaca Surat Asy Syamsu (Wasy Syamsi Wadluhaaha). Ingat Suratan Asy Syamsu dibawah ini dibacakan di Raka’at Pertama setelah membaca Surat Al Fatihah
Setelah itu Ruku, Itidal, Sujud dan kembali berdiri untuk Raka’at kedua, didlm Sholat Dhuha Raka’at kedua ini anda tinggal membaca Bacaan Surat Adl-Dluha (Wadl Dluhaa Wal Laili) setelah anda membaca Surat Al Fatihah.
Bacaan Surat Adl – Dluha diatas dibaca setelah Surat Al Fatihah di Raka’at kedua, kemudian Ruku, Itidal, Sujud dan Salam. Setelah anda mengerjakan Sholat Dhuha ini tinggal duduk dan membaca Dzikir secara Khusyu.
Doa Setelah Sholat Dhuha Terlengkap
Setelah mengerjakan Sholat Dhuha anda tinggal duduk dg khusyu dan konsentrasi dlm membaca Bacaan Doa Dzikir seperti Istighfar 100 kali, Sholawat Nabi 32 kali, Bacaan Tasbih dan Tahmid yg bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Alloh. Setelah itu anda bisa dilanjut dg membaca Doa Setelah Sholat Dhuha seperti dibawah ini

Read more ...

Thursday, April 27, 2017

PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN.


PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN.
1.      Definisi Qurban
Kata qurban berasal dari bahasa Arab, artinya pendekatan diri, sedangkan maksudnya adalah menyembelih binatang ternak sebagai sarana pendekatan diri kepada Allah. Arti ini dikenal dalam istilah Islam sebagai udhiyah. Udhiyah secara bahasa mengandung dua pengertian, yaitu kambing yang disembelih waktu Dhuha dan seterusnya, dan kambing yang disembelih di hari ‘Idul Adha. dengan niat mendekatkan diri (taqarruban) kepada Allah dengan syarat-syarat tertentu (Syarh Minhaj).

2.      Hukum Qurban
Hukum qurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muaqqadah sedang menurut mazhab Abu Hanifah adalah wajib. Allah SWT berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS Al-Kautsaar: 2).
Rasulullah SAW bersabda:
من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا
“Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Dalam hadits lain: “Jika kalian melihat awal bulan Zulhijah, dan seseorang di antara kalian hendak berqurban, maka tahanlah rambut dan kukunya (jangan digunting)” (HR Muslim).

3.      Binatang yang Boleh Diqurbankan
Adapun binatang yang boleh digunakan untuk berqurban adalah binatang ternak (Al-An’aam), unta, sapi dan kambing, jantan atau betina. Sedangkan binatang selain itu seperti burung, ayam dll tidak boleh dijadikan binatang qurban. Allah SWT berfirman:
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (QS Al-Hajj 34).
Kambing untuk satu orang, boleh juga untuk satu keluarga. Karena Rasulullah SAW menyembelih dua kambing, satu untuk beliau dan keluarganya dan satu lagi untuk beliau dan umatnya. Sedangkan unta dan sapi dapat digunakan untuk tujuh orang, baik dalam satu keluarga atau tidak, sesuai dengan hadits Rasulullah SAW:
عن جابرٍ بن عبد الله قال: نحرنا مع رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وسَلَّم بالحُديبيةِ البدنةَ عن سبعةٍ والبقرةَ عن سبعةٍ
Dari Jabir bin Abdullah, berkata “Kami berqurban bersama Rasulullah SAW di tahun Hudaibiyah, unta untuk tujuh orang dan sapi untuk tujuh orang” (HR Muslim).
Binatang yang akan diqurbankan hendaknya yang paling baik, cukup umur dan tidak boleh cacat. Rasulullah SAW bersabda:
“Empat macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban: 1. Cacat matanya, 2. sakit, 3. pincang dan 4. kurus yang tidak berlemak lagi “ (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits lain:
“Janganlah kamu menyembelih binatang ternak untuk qurban kecuali musinnah (telah ganti gigi, kupak). Jika sukar didapati, maka boleh jadz’ah (berumur 1 tahun lebih) dari domba.” (HR Muslim).
Musinnah adalah jika pada unta sudah berumur 5 tahun, sapi umur dua tahun dan kambing umur 1 tahun, domba dari 6 bulan sampai 1 tahun. Dibolehkan berqurban dengan hewan kurban yang mandul, bahkan Rasulullah SAW berqurban dengan dua domba yang mandul. Dan biasanya dagingnya lebih enak dan lebih gemuk.

4.      Pembagian Daging Qurban
Orang yang berqurban boleh makan sebagian daging qurban, sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi`ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur” (QS Al-Hajj 36).
Hadits Rasulullah SAW:
“Jika di antara kalian berqurban, maka makanlah sebagian qurbannya” (HR Ahmad).
Bahkan dalam hal pembagian disunnahkan dibagi tiga. Sepertiga untuk dimakan dirinya dan keluarganya, sepertiga untuk tetangga dan teman, sepertiga yang lainnya untuk fakir miskin dan orang yang minta-minta. Disebutkan dalam hadits dari Ibnu Abbas menerangkan qurban Rasulullah SAW bersabda:
“Sepertiga untuk memberi makan keluarganya, sepertiga untuk para tetangga yang fakir miskin dan sepertiga untuk disedekahkan kepada yang meminta-minta” (HR Abu Musa Al-Asfahani).
Tetapi orang yang berkurban karena nadzar, maka menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, orang tersebut tidak boleh makan daging qurban sedikitpun dan tidak boleh memanfaatkannya.

5.      Waktu Penyembelihan Qurban
Waktu penyembelihan hewan qurban yang paling utama adalah hari Nahr, yaitu Raya ‘Idul Adha pada tanggal 10 Zulhijah setelah melaksanakan shalat ‘Idul Adha bagi yang melaksanakannya. Adapun bagi yang tidak melaksanakan shalat ‘Idul Adha seperti jamaah haji dapat dilakukan setelah terbit matahari di hari Nahr.
Sedangkan mazhab Syafi’i dan sebagian mazhab Hambali juga diikuti oleh Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa hari penyembelihan adalah 4 hari, Hari Raya ‘Idul Adha dan 3 Hari Tasyrik. Berakhirnya hari Tasyrik dengan ditandai tenggelamnya matahari. Pendapat ini mengikuti alasan hadits, sebagaimana disebutkan Rasulullah SAW:
“Semua hari Tasyrik adalah hari penyembelihan” (HR Ahmad dan Ibnu Hibban). Berkata Al-Haitsami:” Hadits ini para perawinya kuat”. Dengan adanya hadits shahih ini, maka pendapat yang kuat adalah pendapat mazhab Syafi’i.

6.      Pelaksanaan penyembelihan qurban
Adapun jika seseorang berqurban, sedangkan hewan qurban dan penyembelihannya dilakukan ditempat lain, maka itu adalah masalah teknis yang dibolehkan. Dan bagi yang berqurban, jika tidak bisa menyembelih sendiri diutamakan untuk menyaksikan penyembelihan tersebut, sebagaimana hadits riwayat Ibnu Abbas RA:
“Hadirlah ketika kalian menyembelih qurban, karena Allah akan mengampuni kalian dari mulai awal darah keluar”.
Ketika seorang muslim hendak menyembelih hewan qurban, maka bacalah: “Bismillahi Wallahu Akbar, ya Allah ini qurban si Fulan (sebut namanya), sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW:
“Bismillahi Wallahu Akbar, ya Allah ini qurban dariku dan orang yang belum berqurban dari umatku” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).
Bacaan boleh ditambah sebagaimana Rasulullah SAW memerintahkan pada Fatimah AS:
“Wahai Fatimah, bangkit dan saksikanlah penyembelihan qurbanmu, karena sesungguhnya Allah mengampunimu setiap dosa yang dilakukan dari awal tetesan darah qurban, dan katakanlah:” Sesungguhnya shalatku, ibadah (qurban) ku, hidupku dan matiku lillahi rabbil ‘alamiin, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan oleh karena itu aku diperintahkan, dan aku termasuk orang yang paling awal berserah diri” (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
7.      Tata Cara Penyembelihan Qurban
a.       Yang memootong adalah orang islam.
b.      Pelaksanaan disengaja dengan didahului dengan membaca ta’awudz dan basmalah.
c.       Alat penyembelihnya berupa benda tajam, dengan maksud mempercepat kematian pada hewan yang disembelih sehingga tidak menyiksa hewan tersebut.
d.      Hewan digulingkan rusuknya agar mudah penyembelihannya.
e.       Dihadapkan ke kiblat.
f.       Hewan di potong pada bagian lehernya hingga urat pernapasan putus.
g.      Urat penyalur makanan dan minuman putus.
h.      Disunnahkan pada bagian leher kiri dan kanan agar cepat putus.
8.      Berqurban dengan Cara Patungan
Berkata Ibnul Qoyyim dalam Zaadul Ma’ad:
“Di antara sunnah Rasulullah SAW bahwa qurban kambing boleh untuk seorang dan keluarganya walaupun jumlah mereka banyak sebagaimana hadits Atha bin Yasar dari Abu Ayyub Al-Anshari. Disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW.
عن أبي الأسود السلمي، عن أبيه، عن جده قال: كنت سابع سبعة مع رسول الله -صلَّى الله عليه وسلَّم- في سفره، فأدركنا الأضحى. فأمرنا رسول الله -صلَّى الله عليه وسلم-، فجمع كل رجل منا درهما، فاشترينا أضحية بسبعة دراهم. وقلنا: يا رسول الله، لقد غلينا بها. فقال: (إن أفضل الضحايا أغلاها، وأسمنها) قال: ثم أمرنا رسول الله -صلَّى الله عليه وسلم-، فأخذ رجل برِجل، ورجل برِجل، ورجل بيد، ورجل بيد، ورجل بقرن، ورجل بقرن، وذبح السابع، وكبروا عليها جميعا.
Dari Abul Aswad As-Sulami dari ayahnya, dari kakeknya, berkata: Saat itu kami bertujuh bersama Rasulullah saw, dalam suatu safar, dan kami mendapati hari Raya ‘Idul Adha. Maka Rasulullah SAW memerintahkan kami untuk mengumpulkan uang setiap orang satu dirham. Kemudian kami membeli kambing seharga 7 dirham. Kami berkata:” Wahai Rasulullah SAW harganya mahal bagi kami”. Rasulullah SAW bersabda:” Sesungguhnya yang paling utama dari qurban adalah yang paling mahal dan paling gemuk”. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan pada kami. Masing-masing orang memegang 4 kaki dan dua tanduk sedang yang ketujuh menyembelihnya, kemudian kami semuanya bertakbir” (HR Ahmad dan Al-Hakim).
Dan berkata Ibnul Qoyyim dalam kitabnya ‘Ilamul Muaqi’in setelah mengemukakan hadits tersebut: “Mereka diposisikan sebagai satu keluarga dalam bolehnya menyembelih satu kambing bagi mereka. Karena mereka adalah sahabat akrab. Oleh karena itu sebagai sebuah pembelajaran dapat saja beberapa orang membeli seekor kambing kemudian disembelih. Sebagaimana anak-anak sekolah dengan dikoordinir oleh sekolahnya membeli hewan qurban kambing atau sapi kemudian diqurbankan. Dalam hadits lain diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Abbas, datang pada Rasulullah SAW seorang lelaki dan berkata:
“Saya berkewajiban qurban unta, sedang saya dalam keadaan sulit dan tidak mampu membelinya”. Maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk membeli tujuh ekor kambing kemudian disembelih”.
Hukum Menjual Bagian Qurban
Orang yang berqurban tidak boleh menjual sedikitpun hal-hal yang terkait dengan hewan qurban seperti, kulit, daging, susu dll dengan uang yang menyebabkan hilangnya manfaat barang tersebut. Jumhur ulama menyatakan hukumnya makruh mendekati haram, sesuai dengan hadits:
“Siapa yang menjual kulit hewan qurban, maka dia tidak berqurban” (HR Hakim dan Baihaqi).
Kecuali dihadiahkan kepada fakir-miskin, atau dimanfaatkan maka dibolehkan. Menurut mazhab Hanafi kulit hewan qurban boleh dijual dan uangnya disedekahkan. Kemudian uang tersebut dibelikan pada sesuatu yang bermanfaat bagi kebutuhan rumah tangga.
Hukum Memberi Upah Tukang Jagal Qurban
Sesuatu yang dianggap makruh mendekati haram juga memberi upah tukang jagal dari hewan qurban. Sesuai dengan hadits dari Ali RA:
“Rasulullah SAW memerintahkanku untuk menjadi panitia qurban (unta) dan membagikan kulit dan dagingnya. Dan memerintahkan kepadaku untuk tidak memberi tukang jagal sedikitpun”. Ali berkata:” Kami memberi dari uang kami” (HR Bukhari).
Hukum Berqurban Atas Nama Orang yang Meninggal
Berqurban atas nama orang yang meninggal jika orang yang meninggal tersebut berwasiat atau wakaf, maka para ulama sepakat membolehkan. Jika dalam bentuk nadzar, maka ahli waris berkewajiban melaksanakannya. Tetapi jika tanpa wasiat dan keluarganya ingin melakukan dengan hartanya sendiri, maka menurut jumhur ulama seperti mazhab Hanafi, Maliki dan Hambali membolehkannya. Sesuai dengan apa yang dilakukan Rasulullah SAW, beliau menyembelih dua kambing yang pertama untuk dirinya dan yang kedua untuk orang yang belum berqurban dari umatnya. Orang yang belum berqurban berarti yang masih hidup dan yang sudah mati. Sedangkan mazhab Syafi’i tidak membolehkannya. Anehnya, mayoritas umat Islam di Indonesia mengikuti pendapat jumhur ulama, padahal mereka mengaku pengikut mazhab Syafi’i.
Kategori Penyembelihan
Amal yang terkait dengan penyembelihan dapat dikategorikan menjadi empat bagian. Pertama, hadyu; kedua, udhiyah sebagaimana diterangkan di atas; ketiga, aqiqah; keempat, penyembelihan biasa. Hadyu adalah binatang ternak yang disembelih di Tanah Haram di hari-hari Nahr karena melaksanakan haji Tamattu dan Qiran, atau meninggalkan di antara kewajiban atau melakukan hal-hal yang diharamkan, baik dalam haji atau umrah, atau hanya sekedar pendekatan diri kepada Allah SWT sebagai ibadah sunnah. Aqiqah adalah kambing yang disembelih terkait dengan kelahiran anak pada hari ketujuh sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah. Jika yang lahir lelaki disunnahkan 2 ekor dan jika perempuan satu ekor.

Sedangkan selain bentuk ibadah di atas, masuk ke dalam penyembelihan biasa untuk dimakan, disedekahkan atau untuk dijual, seperti seorang yang melakukan akad nikah. Kemudian dirayakan dengan walimah menyembelih kambing. Seorang yang sukses dalam pendidikan atau karirnya kemudian menyembelih binatang sebagai rasa syukur kepada Allah SWT dll. Jika terjadi penyembelihan binatang ternak dikaitkan dengan waktu tertentu, upacara tertentu dan keyakinan tertentu maka dapat digolongkan pada hal yang bid’ah, sebagaimana yang terjadi di beberapa daerah. Apalagi jika penyembelihan itu tujuannya untuk syetan atau Tuhan selain Allah maka ini adalah jelas-jelas sebuah bentuk kemusyrikan
Read more ...
Designed By